Jumat, 06 Februari 2009

An elderly carpenter was ready to retire. He told his employer-contractor of his plans to leave the house-building business to live a more leisurely life with his wife and enjoy his extended family. He would miss the paycheck each week, but he wanted to retire. They could get by.

The contractor was sorry to see his good worker go & asked if he could build just one more house as a personal favor. The carpenter said yes, but over time it was easy to see that his heart was not in his work. He resorted to shoddy workmanship and used inferior materials. It was an unfortunate way to end a dedicated career.

When the carpenter finished his work, his employer came to inspect the house. Then he handed the front-door key to the carpenter and said, "This is your house... my gift to you."

The carpenter was shocked!

What a shame! If he had only known he was building his own house, he would have done it all so differently.

So it is with us. We build our lives, a day at a time, often putting less than our best into the building. Then, with a shock, we realize we have to live in the house we have built. If we could do it over, we would do it much differently.

But, you cannot go back. You are the carpenter, and every day you hammer a nail, place a board, or erect a wall. Someone once said, "Life is a do-it-yourself project." Your attitude, and the choices you make today, help build the "house" you will live in tomorrow. Therefore, Build wisely!
KOPI ASIN

Seorang pria bertemu dengan seorang gadis di sebuah pesta, si gadis tampil luar biasa cantiknya, banyak lelaki yang mencoba mengejar si gadis. Si pria sebetulnya tampil biasa saja dan tak ada yang begitu memperhatikan dia, tapi pada saat pesta selesai dia memberanikan diri mengajak si gadis untuk sekedar mencari minuman hangat. Si gadis agak terkejut, tapi karena kesopanan si pria itu, si gadis mengiyakan ajakannya.

Dan mereka berdua akhirnya duduk di sebuah coffee shop, tapi si pria sangat gugup untuk berkata apa-apa dan si gadis mulai merasa tidak nyaman dan berkata, "Kita pulang aja yuk...?".

Namun tiba-tiba si pria meminta sesuatu pada sang pramusaji, "Bisa minta garam buat kopi saya?"
Semua orang yang mendengar memandang dengan ke arah si pria, aneh sekali!
Wajahnya berubah merah, tapi tetap saja dia memasukkan garam tersebut ke dalam kopinya dan meminumnya.

Si gadis dengan penasaran bertanya, "Kenapa kamu bisa punya hobi seperti ini?"

Si pria menjawab, "Ketika saya kecil, saya tinggal di daerah pantai dekat laut, saya suka bermain di laut, saya dapat merasakan rasanya laut, asin dan sedikit menggigit, sama seperti kopi asin ini. Dan setiap saya minum kopi asin, saya selalu ingat masa kanak-kanak saya, ingat kampung halaman, saya sangat rindu kampung halaman saya, saya kangen orang tua saya yang masih tinggal di sana."

Begitu berkata kalimat terakhir, mata si pria mulai berkaca-kaca, dan si gadis sangat tersentuh akan perasaan tulus dari ucapan pria di hadapannya itu. Si gadis berpikir bila seorang pria dapat bercerita bahwa ia rindu kampung halamannya, pasti pria itu mencintai rumahnya, perduli akan rumahnya dan mempunyai tanggung jawab terhadap rumahnya. Kemudian si gadis juga mulai berbicara, bercerita juga tentang kampung halamannya nun jauh di sana , masa kecilnya, dan keluarganya.

Suasana kaku langsung berubah menjadi sebuah perbincangan yang hangat juga akhirnya menjadi sebuah awal yang indah dalam cerita mereka berdua.


Mereka akhirnya berpacaran. Si gadis akhirnya menemukan bahwa si pria itu adalah seorang lelaki yang dapat memenuhi segala permintaannya, dia sangat perhatian, berhati baik, hangat, sangat perduli ...
betul-betul seseorang yang sangat baik tapi si gadis hampir saja kehilangan seorang lelaki seperti itu!

Untung ada kopi asin!

Kemudian cerita berlanjut seperti layaknya setiap cerita cinta yang indah, sang putri menikah dengan sang pangeran dan mereka hidup bahagia selamanya, dan setiap saat sang putri membuat kopi untuk sang pangeran, ia membubuhkan garam di dalamnya, karena ia tahu bahwa itulah yang disukai oleh pangerannya.

Setelah 40 tahun, si pria meninggal dunia, dan meninggalkan sebuah surat yang berkata, "Sayangku yang tercinta, mohon maafkan saya, maafkan kalau seumur hidupku adalah dusta belaka. Hanya sebuah kebohongan yang aku katakan padamu ... tentang kopi asin."

Ingat sewaktu kita pertama kali jalan bersama? Saya sangat gugup waktu itu, sebenarnya saya ingin minta gula tapi malah berkata garam. Sulit sekali bagi saya untuk merubahnya karena kamu pasti akan tambah merasa tidak nyaman, jadi saya maju terus. Saya tak pernah terpikir bahwa hal itu ternyata menjadi awal komunikasi kita! Saya mencoba untuk berkata sejujurnya selama ini, tapi saya terlalu takut melakukannya, karena saya telah berjanji untuk tidak membohongimu untuk suatu apa pun.

Sekarang saya sekarat, saya tidak takut apa-apa lagi jadi saya katakan padamu yang sejujurnya, saya tidak suka kopi asin, betul-betul aneh dan rasanya tidak enak. Tapi saya selalu dapat kopi asin seumur hidupku sejak bertemu denganmu, dan saya tidak pernah sekalipun menyesal untuk segala sesuatu yang saya lakukan untukmu. Memilikimu adalah kebahagiaan terbesar dalam seluruh hidupku. Bila saya dapat hidup untuk kedua kalinya, saya tetap ingin bertemu kamu lagi dan memilikimu seumur hidupku, meskipun saya harus meminum kopi asin itu lagi.

Air mata si gadis betul-betul membuat surat itu menjadi basah. Kemudian hari bila ada seseorang yang bertanya padanya, apa rasanya minum kopi pakai garam?

Si gadis pasti menjawab, "Rasanya manis."


Kadang anda merasa anda mengenal seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan. Sama seperti kejadian kopi asin tadi.

Tambahkan Cinta dan Kurangi Benci karena terkadang garam terasa lebih manis daripada gula.
Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. "Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?" "Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"

"Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?"

"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?"

"Dalam satu jam harus berdetak 3,600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya

Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam, "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"

"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik.

Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti.

Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31,104,000 kali


Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita teryata mampu. Bahkan yang semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan sekalipun.
Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Ada yang mengukur hidup mereka dari hari dan tahun, yang lain dengan denyut jantung, kesenangan, dan kesedihan. Tetapi ukuran sejati di atas bumi ini adalah apa yang telah engkau lakukan dalam hidup ini untuk dirimu maupun orang lain.
01]. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

02]. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

03]. Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

04]. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

05]. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda.
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

06]. Hari ini sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

07]. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

08]. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yag tinggal dijalanan

09]. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

10]. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti anda.

11]. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa,,,

12]. Kita semua menjawab kepada Sang Pencipta
Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahwa kamu masih hidup !

a. Life is a gift
b. Live it...
c. Enjoy it...
d. Celebrate it...
e. And fulfill it.

13]. Cintai orang lain dengan perkataan dan perbuatanmu

14]. Cinta diciptakan tidak untuk disimpan atau disembunyikan

15]. Anda tidak mencintai seseorang karena dia cantik atau tampan,
Mereka cantik/tampan karena anda mencintainya, ,,

16]. It's true you don't know what you've got until it's gone, but it's
also true You don't know what you've been missing until it arrives!!!

Senin, 02 Februari 2009

One day a teacher asked her students to list the names of the other students in the room on two sheets of paper, leaving a space between each name. Then she told them to think of the nicest thing they could say about each of their classmates and write it down. It took the remainder of the class period to finish their assignment, and as the students left the room, each one handed in the papers. That Saturday, the teacher wrote down the name of each student on a separate sheet of paper, and listed what everyone else had said about that individual. On Monday she gave each student his or her list. Before long, the entire class was smiling. "Really?" she heard whispered. "I never knew that I meant anything to anyone!" and, "I didn't know others liked me so much." were most of the comments. No one ever mentioned those papers in class again. She never knew if they discussed them after class or with their parents, but it didn't matter. The exercise had accomplished its purpose. The students were happy with themselves and one another. That group of students moved on.

Several years later, one of the students was killed in Vietnam and his teacher attended the funeral of that special student. She had never seen a serviceman in a military coffin before. He looked so handsome, so mature. The church was packed with his friends. One by one those who loved him took a last walk by the coffin. The teacher was the last one to bless the coffin. As she stood there, one of the soldiers who acted as pallbearer came up to her. "Were you Mark's math teacher?" he asked. She nodded: "yes." Then he said: "Mark talked about you a lot."

After the funeral, most of Mark's former classmates went together to a luncheon. Mark's mother and father were there, obviously waiting to speak with his teacher. "We want to show you something," his father said, taking a wallet out of his pocket. "They found this on Mark when he was killed. We thought you might recognize it." Opening the billfold, he carefully removed two worn pieces of notebook paper that had obviously been taped, folded and refolded many times. The teacher knew without looking that the papers were the ones on which she had listed all the good things each of Mark's classmates had said about him. "Thank you so much for doing that," Mark's mother said. "As you can see, Mark treasured it." All of Mark's former classmates started to gather around. Charlie smiled rather sheepishly and said, "I still have my list. It's in the top drawer of my desk at home." Chuck's wife said, "Chuck asked me to put his in our wedding album." "I have mine too," Marilyn said. "It's in my diary." Then Vicki, another classmate, reached into her pocketbook, took out her wallet and showed her worn and frazzled list to the group. "I carry this with me at all times," Vicki said and without batting an eyelash, she continued: "I think we all saved our lists." That's when the teacher finally sat down and cried. She cried for Mark and for all his friends who would never see him again.

The density of people in society is so thick that we forget that life will end one day. And we don't know when that one day will be. So please, tell the people you love and care for, that they are special and important. Tell them, before it is too late.
A group of working adults got together to visit their University lecturer. The lecturer was happy to see them. Conversation soon turned into complaints about stress in work and life. The Lecturer just smiled and went to the kitchen to get an assortment of cups - some porcelain, some in plastic, some in glass, some plainlooking and some looked rather expensive and exquisite. The Lecturer offered his former students the cups to get drinks for themselves. When all the students had a cup in hand with water, the Lecturer spoke: "If you noticed, all the nice looking, expensive cups were taken up, leaving behind the plain and cheap ones. While it is normal that you only want the best for yourselves, that is the source of your problems and stress. What all you wanted was water, not the cup, but we unconsciously went for the better cups." "Just like in life, if Life is Water, then the jobs, money and position in society are the cups. They are just tools to hold/maintain Life, but the quality of Life doesn't change." "If we only concentrate on the cup, we won't have time to enjoy/taste the water in it.